Tuesday, March 09, 2010

Cara Menilai Program Bisnis Online - Penipuan Atau Tidak

Saya sering menemukan debat kusir tentang apakah suatu (program) bisnis online menipu atau tidak. Orang-orang yang terlibat di dalamnya saling membenarkan dirinya sendiri dan menyalahkan orang lain.

Si A mengatakan pendapatnya yang benar sedangkan pendapat si B adalah salah dan B orangnya emosional. Sementara si B mengatakan pendapat si A tidak logis dan si A picik. Debat kusir semacam ini tidak akan pernah berkesudahan.

Mengapa sering terjadi debat kusir mengenai suatu program bisnis online, menipu atau tidak?

Karena masing-masing orang yang terlibat di dalamnya memberikan penilaian berdasarkan parameter atau tolok ukur yang subyektif.

Apa itu parameter yang subyektif?

Itulah perasaan, pengalaman dan kondisi khusus masing-masing.

Contohnya begini… Seorang asli kota berbeda penpendapat dengan orang asli desa terpencil tentang jarak dari satu tempat ke tempat lainnya yang ditempuh dengan berjalan kaki.

Orang asli kota mengatakan jarak (antara kedua tempat) tersebut “jauh”. Maklum ia tidak biasa bepergian dengan berjalan kaki; kemana-mana biasanya menggunakan angkutan umum.

Sementara itu, orang desa terpencil menilainya “dekat”. Maklum ia sudah terbiasa berjalan kaki; di desa terpencil tidak angkutan umum sehingga kemana-mana harus berjalan kaki.

Dalam dunia bisnis online contohnya begini… Si A menilai bisnis online X adalah penipuan karena menjual ebook yang isinya sudah diketahui si A. Maklum si A sudah cukup lama mengenal bisnis online sebelum membeli ebook tersebut.

Si B menilai bisnis online tersebut bukan penipuan, karena isi ebooknya sangat bermanfaat bagi dirinya. Maklum si B baru saja mengenal bisnis online saat membeli ebook yang dijual bisnis online X tersebut.

Lantas, bagaimana mengatasi debat kusir yang tak berkesudahan ini?

Tak lain adalah dengan mengajukan parameter yang obyektif dalam memberikan penilaian. Masing-masing yang terlibat dalam diskusi semestinya mengajukan penilaian berdasarkan parameter yang jelas dan obyektif.

Karena tidak ada yang benar-benar obyektif, maka tepatnya adalah parameter yang intersubyektif. Yaitu parameter yang lepas dari pengalaman dan kondisi khusus individu-individu sekaligus paling bisa diterima oleh kebanyakan orang.

Mungkinkah menetapkan parameter yang intersubyektif ini?

Pertanyaannya bukan mungkin atau tidak mungkin, melainkan sudah sejauh mana usaha kita untuk menemukan parameter tersebut.

Saya sendiri sudah menemukan ada 7 hal yang bisa dijadikan parameter (intersubyektif) dalam menilai program bisnis online, tepatnya program reseller atau affiliate program.

7 poin tersebut saya formulasikan setelah melakukan ‘riset’ selama dua bulan terakhir tahun lalu. Dan saya sudah menyusun formula tersebut menjadi ebook berjudul, “7 Trik Penipuan yang Dirahasiakan Pengelola Program Reseller/Afiliasi Anda.”

Salah satu dari 7 parameter tersebut sudah saya bocorkan di posting yang lalu tentang trik penipuan affiliate program. Dalam posting tersebut intinya saya mengemukakan bahwa salah satu ciri program reseller/ affiliate program penipuan adalah jika menganut sistem default dalam sistem reseller/afiliasinya.

Untuk memahami sistem default ini secara lengkap anda perlu membaca posting tersebut, tapi sebelum itu, mungkin anda bertanya, “Mungkinkah semua orang bersepakat dengan parameter tersebut?”

Jawabannya: Hampir semua – atau bahkan semuanya – akan bisa menerima parameter tersebut!

Mengapa? Karena parameter tersebut bukan sesuatu yang subyektif - yaitu berdasarkan perasaan, pengalaman atau kondisi khusus individu-individu - melainkan sesuatu yang obyektif, lepas dari hal-hal subyektif di atas – logis dan masuk akal bagi semua orang.

Kalaupun ada yang menolak parameter tersebut (kontra) dan menganggap sistem default pada sistem reseller/afiliasi bukan penipuan, maka setidaknya perbedaan pendapatnya dengan pihak yang setuju (pro) dengan parameter tersebut, jadi jelas.

Jika anda misalnya berpendapat bahwa sistem default pada sistem reseller/afiliasi bukan penipuan, setidaknya anda tetap setuju bahwa dalam sistem default, para reseller/affiliate sangat besar kemungkinan akan kehilangan komisi mereka yang mengalir ke rekening pengelola atau patnernya.

Dalam contoh kasus orang asli kota dan orang desa terpencil di atas, perbedaan pendapat akan selesai jika tolok ukur yang digunakan obyektif, misalnya meter. Tinggal ukur saja jarak antara kedua tempat tersebut dengan alat ukur meter, lalu nyatakan jaraknya dengan satuan meter, misalnya 2 kilomter.

Penilaian “jauh” dan “dekat” adalah sesuatu yang subyektif karena berdasarkan kebiasaan dan pengalaman masing-masing keduanya. Tapi 2 kilometer, misalnya, adalah sesuatu yang obyektif. Dimanapun dan kapanpun jarak 2 kilometer adalah sama (obyektif).

Nah kembali ke kasus program reseller / affiliate program di atas, agar lebih jelas, silahkan baca posting tentang sistem default tersebut di Penipuan Affiliate Program Terbongkar!


0 komentar: